Rabu, 21 September 2011

tari bedhaya ketawang

1. jenis tarian dari solo adalah Bedhaya Ketawang
2. a. jenis peran: Batak ( penari pertama), Endhel Ajeg, Endhel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneg, Gulu, Dhada, dan Boncit.
·       Apit mburi: melambangkan lengan kiri 
·       Apit ngarep: melambangkan lengan kanan
·       Apit meneng: melambangkan kaki kiri
·       Batak: mewujudkan jiwa dan pikiran
·       Buncit: mewujudkan organ seks
·       Dadha: melambangkan dada
·       Endhel ajeg: mewujudkan nafsu atau keinginan hati
·       Endhel weton: melambangkan kaki kanan
·       Jangga (gulu): melambangkan leher

b. perkembangan tarian: 
Bedhaya berasal dari bahasa Sanskerta budh yang berarti pikiran atau budi. Dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi bedhaya atau budaya. Penggunaan istilah tersebut dikarenakan tari bedhaya diciptakan melalui proses olah fikir dan olah rasa. Pendapat lain menyatakan bahwa bedhaya berarti penari kraton, sedangkan ketawang berarti langit atau angkasa. Jadi bedhaya ketawang berarti tarian langit yang menggambarkan gerak bintang-bintang, sehingga gerakan para penarinya sangat pelan.  
     Tari Bedhaya Ketawang sejalan dengan pemahaman mitos yang berlaku di ling-kungan tradisi Jawa, disakralkan merupakan pelestarian hubungan mistis antara keturunan Panembahan Senopati sebagai Raja Mataram baru yang pertama, dengan penguasa Laut Selatan, yaitu Kanjeng Ratu Kidul atau juga disebut Kanjeng Ratu Kencana Sari. (Sudibyo Z H 1980 : 103-106)
     Seperti pengertian yang berlaku umum di Asia Tenggara mengenai kesejahteraan antara mikrokosmos dan makrokosmos berusaha mencari keselarasan kehidupan dengan makrokosmos atau jagad raya. Keseimbangan ini untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran kerajaan. (Geldern 1972 : 25)
     Tari Bedhaya Ketawang di Surakarta dalam tradisi setempat dipercaya sebagai karya Sultan Agung dengan Kanjeng Ratu Kidul Kencana Sari. Para penari yang dipilih untuk menarikan Bedhaya Ketawang ialah para putri nayaka wolu (delapan pejabat istana) dan seorang putri patih Mataram, sebagai pimpinan atau sebagai penari batak dalam bedhaya. (Hadiwijaya 1981 : 16) 
     Tari Bedhaya Ketawang bukan seni pertunjukkan yang ditontonkan melainkan sebagai sarana legitimasi kekuasaan raja dan olah semedi, dalam arti selama upacara berlangsung semua yang hadir tidak diperbolehkan makan, minum, dan juga merokok. (Hadiwijaya 1971:12)
     Tari Bedhaya Ketawang bisa dikatakan sebagai alat kebesaran raja termasuk di dalam kelompok pusaka yang dapat dipergunakan untuk menunjukkan adanya keturunan Panembahan Senopati dengan makhluk halus (Kanjeng Ratu Kidul beserta bala tentaranya) yang memiliki kekuatan gaib. (Nora 1993:18)
     Pada abad XVIII, tari bedhaya merembes keluar istana. Untuk menjaga kewibawaan istana, maka raja mengeluarkan peraturan yang ditujukan kepada para Adipati, Bupati, dan Wedana bahwa: tari bedhaya yang diselenggarakan atau dipergunakan di luar istana hanya diperke-nankan tari bedhaya tujuh orang, dan bukan sembilan orang seperti di is¬tana. (Transliterasi Wrekso Pustoko Mangkunegaran; 1982:10)
     Perkembangan tari bedhaya di luar istana sangat pesat pada perte-ngahan abad XVIII. Bupati Panaraga antara tahun 1745-1755, tercatat pernah memiliki tari bedhaya sejumlah tujuh pasang. (Soeryadiningrat; 1934:10)
     Tari bedhaya yang dikenal yang dikenal sejak Kerajaan Mataram, terus berkembang hingga sekarang mempunyai bermacam-macam versi mengenai penciptaannya.

Penari bedhaya adalah abdi dalem, yaitu para penari keputren yang telah dibina sejak umur ± 12 tahun, sesudah remaja atau sudah dianggap mampu untuk menarikan tari bedhaya, bila raja berkenan mereka diambil untuk dijadikan penari keraton. Kehidupan para penari ditanggung oleh keraton. Penuturan pengalaman pribadi R.A. Laksminto Rukmi, salah seorang penari bedhaya yang cukup terkenal, menyatakan bahwa:

"Penari bedhaya (yang terorganisir dalam masyarakat abdi dalem bedhaya) dipersiapkan sebagai teman di peraduan, dan tidak jarang juga bahkan diangkat sebagai permaisuri. (1989: Pertiwi No. 79 dan 80)"

Bedhaya sebagai abdi dalem merupakan salah satu sakti raja, yang sangat dibutuhkan keberadaannya sebagai legimitasi raja. Hal lini tentu saja harus dipandang dengan kacamata Hindu yaitu konsep Dewaroja, yang ada sejak masa pengaruh Hindu dan masih terasa berlanjut hingga sekarang.

Beberapa tari bedhaya dan tari istana lainnya yang tersebar keluar lingkungannya, telah mengalami banyak perubahan yang -tidak sengaja maupun disengaja. Dikhawatirkan apalagi perubahan-perubahan tersebut tidak terkontrol, dapat mengurangi makna dan nilai estetis tari bedhaya. Bedhaya Ketawang yang ada sekarang secara utuh masih disajikan pada upacara Jumenengan Raja (pengukuhan raja), namun aturannya tidak se-ketat dahulu.

Paling mencolok dan menimbulkan berbagai pertanyaan yaitu pada tahun 1988 raja ikut tampil sebagai penari bedhaya ketawang. Padahal bentuk sajian isi ceritera bedhaya ketawang menggambarkan percintaan yang sangat dalam (hubungan sexual antara Raja dan Ratu Kidul), sudah barang tentu, putri-putri raja seharusnya tidak diperkenankan ikut me-narikan Tari Bedhaya Ketawang. Dengan pergeseran fungsi dan dipandang dari kesenian bahwa, tari Bedhaya Ketawang adalah salah satu bentuk seni tari tradisional yang harus hidup dan berkembang untuk kelesta-riannya, maka hal tersebut dapat dilakukan agar tari Bedhaya Ketawang tidak punah.


3. a. keunikan gerak: Fakta yang sekarang dapat dijumpai antara lain: vokabuler gerak merupakan engembangan dari vokabuler gerak pada tari bedhaya ketawang.jumlah penari penunjukkan kesamaan yaitu selalu berjumlah gasal,. Segala gerakannya melukiskan bujuk rayu dan cumbu birahi
b. kostum: Busana yang dikenakan memakai busana dodot dan lain-lain. Penggunaan busana dodot ageng dan tata rias wajah dan tata rias rambut dan tata rias busana yang sama.
layaknya pengantin putri Kraton Surakarta.  kain dodot, samparan, serta sondher. Dodot merupakan kain yang memiliki ukuran 2 atau 2,5 kali kain panjang biasa, hingga panjang dodot bisa mencapai 3,75 hingga 4 meter. Pada masa lalu, kain ini hanya dikenakan oleh raja dan keluarga serta kaum ningrat untuk upacara tertentu, sepasang pengantin keraton, serta penari Bedhaya dan Serimpi. memiliki dua penari utama, yaitu batak dan endhel ajeg yang dapat dibedakan dari warna dodot mereka. Meskipun memiliki motif yang sama yaitu alas-alasan, tetapi warnanya berbeda. Batak dan endhel ajeg mengenakan dodot alas-alasan berwarna hijau gelap yang disebut dodot gadung mlathi, sedangkan 7 penari lainnya mengenakan dodot alas-alasan berwarna biru gelap yang disebut dodot bangun tulak.

a.     Ragam hias garuda
b.     Ragam hias kura-kura
c.      Ragam hias ular
d.     Ragam hias burung
e.     Ragam hias Meru
f.       Ragam hias Pohon Hayat
g.     Ragam hias Ayam Jantan
h.     Ragam hias kijang
i.       Ragam hias gajah
j.       Ragam hias burung bangau
k.      Ragam hias harimau
l.       Ragam hias motif kawung

Namun sebelum dodot dipakai, terlebih dahulu dikenakan samparan, yaitu kain panjang yang dikenakan sebagai pakaian dalam bagian bawah. Kain tersebut berukuran 2,5 kacu atau 2,5 kali lebar kain yang dikenakan dengan cara melilitkan kain dari kiri ke kanan. Sisa kain yang biasanya digunakan sebagai wiron diurai ke bawah, di antara kedua kaki mengarah ke belakang sehingga membentuk semacam ekor yang disebut seredan. Selanjutnya dikenakan sondher, yaitu kain panjang menyerupai selendang yang dikenakan untuk menari.

c. iringan tarian: ditemani oleh Musik Jawa Orkes yang disebut Gamelan. Gamelan ini dinamai Gamelan Kyai Kaduk Manis yang terdiri dari dari banyak instrumen musik seperti kendhang Ageng ( kendhang besar), Kendhang Ketipung, Kenong, dan kethuk
4. pola lantai : pola lantai mengacu pada pola lantai yang ada pada Tari Bedhaya Ketawang. pola lantai seperti gawang montor mabur, gawang jejer wayang, gawang urut kacang, gawang kalajengking, gawangperang, dan gawang tiga-tiga.
     Bentuk sajian tari Bedhaya Ketawang terdiri dari tiga bagian, yaitu: maju beksan, beksan pokok, dan mundur beksan. Maju beksan dimulai dari penari berjalan kapang-kapang, yaitu berbari satu per satu dengan jarak kira-kira satu meter dari nDalem Prabasuyasa menuju Pendapa Sasana Sewaka kemudian membentuk gawang rakit montor mabur tepat di bawah lampu robyong besar. Jalan penari menuju pendapa harus menganankan raja (arah jarum jam), yaitu lewat sebelah kiri tempat duduk raja.

Urutan masuk para penari sebagai berikut: endhel ajeg, batak, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, gulu, apit meneng, dhadha, buncit. Kapang-kapang ini diiringi dengan suluk Pathetan Pelog Lima Ageng oleh kelompok vokall laki-laki dengan iringan beberapa instrumen gamelan be-rupa gender, gambang, rebab, dan suling. Setelah sampai di hadapan raja tepat di tengah-tengah Pendapa Sasana Sewaka membentuk gawang rakit montor mabur kemudian duduk bersila dan menyembah.

formasi nawagraha, perbintangan kartika : 2 + 5 + 2. atas irama gamelan para penari melambangkan peredaran tata tertip kosmis azali yang teratur : kemudian bagaimana tata tertip tersebut menjadi kacau dan kemudian dipuluhkan lagi.


5.pebandingan tarian bedhaya ketawang
jika dibandingkan dengan salah satu tarian di Jawa barat, saya mengambil contoh tari jaipong dengan bedhaya :

Bedhaya Ketawang:
-mengandung pendidikan dan berbagai makna simbolis yang sangat berarti bagi kehidupan manusia jawa.
-tari Bedhaya Ketawang dapat dikatakan sebagai sarana legitimasi kekuasaan.
-merupakan reaktualisasi hubungan mistis
-dianggap sangat tua dan bersifat sakral, yang mempunyai kedudukan khusus bagi Karaton Kasunanan Surakarta
-Hadirin yang terpilih untuk melihat atau menyaksikan tarian ini harus dalam keadaan khusuk,semedi,hening dan heneng dalam artian hadirin selama tarian berlangsung tidak boleh berbicara, makan dan hanya boleh diam dan menyaksikan gerakan demi gerakan sang penari.
-sebagai adat upacara, sengaja diciptakan untuk saat-saat sakral.
-penari Bedhaya Ketawang haruslah seorang gadis yang suci dan tidak sedang haid.

Jaipong :

- Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan
-
acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat
-tariannya benrenergi
- Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang.







untuk videonya, silakan dibuka di :
http://www.youtube.com/watch?v=aU2-ktJma4g&feature=related 
http://www.youtube.com/watch?v=zlpoG5urKa4 

sumber favorit! yg ngebantu tugas guebanget :
http://www.j-harmonia.com/2010/03/tari-bedhaya-ketawang-legimitasi.html 
http://www.ullensentalu.com/versiCetak.php?idberita=66 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar